CaraJurnalistik-Sebuah karya jurnalistik dikemas baik atau buruk ditentukan oleh kegiatan awal pencarian fakta dilingkungan. Dalam ilmu jurnalistik kegiatan ini disebut “news gatherin”. Seorang jurnalis harus mampu menangkap peristiwa-peristiwa yang ada di skitarnya, sebab kesempatan waktu yang diberikan oleh media tempat ia bekerja untuk menulis peristiwa ini seringkali sangat terbatas. Jika media tempat ia bekerja tersebut surat kabar harian, misalnya, ia hanya diberikan kesempatan waktu (dead line) paling banyak lima jam saja. Misalnya peristiwa tersebut terjadi pukul 09:00 WIB sampai pukul 12:00 WIB, maka ia harus memiliki draf (out line) yang lengkap sebelum pukul 17:00 WIB. Dan naskah jadinya semestinya harus jadi satu jam kemudian. Naskah ini harus diperiksa editor, disetting, dilayout, sebelum kemudia dicetak. Tegasnya cara kerja jurnalis harus cepat.
Karena itu orang yang ingin bekerja dibidang jurnalistik harus memiliki apa yang disebu “kemampuan responsif”, yakni kemampuan dalam memaknai peristiwa yang hendak diliput dengan cepat dan tepat. Tentang bagaimana metode latihan untuk membentuk kecepatan dalam merespon gejala akan kita bahas nanti. Bagian ini kita fokuskan dulu pada masalah ketepatan dalam memaknai gejala yang menentukan ketepatan dalam penulisannya.
Karena itu orang yang ingin bekerja dibidang jurnalistik harus memiliki apa yang disebu “kemampuan responsif”, yakni kemampuan dalam memaknai peristiwa yang hendak diliput dengan cepat dan tepat. Tentang bagaimana metode latihan untuk membentuk kecepatan dalam merespon gejala akan kita bahas nanti. Bagian ini kita fokuskan dulu pada masalah ketepatan dalam memaknai gejala yang menentukan ketepatan dalam penulisannya.
Misalnya kamu
seorang wartawan bulletin sekolah disuruh meliput peristiwa kedatangan tokoh di
sekolahmu. Tentunya, kamu tidak boleh menghipun informasi hanya berdasarkan terkaan
atau dugaan saja. Dengan penuh keyakinan langsung ditulis “Kehadiran seorang
tokoh dalam rangka memberikan bantuan buku-buku tentang pembangunan indonesia”
atau ditambah “seorang tokoh memberikan ceramah tentang pengalamannya ketika
menjadi anggota ABRI”. Apa yang kamu tulis dengan penuh PD (percaya diri) itu
bisa keliru atau salah besar. Padahal kenyataanya tokoh tersebut datang
kesekolahmu hanya dalam rangka reuni dengan Kepala Sekolah dan beberapa guru
yang kebetulan dulu satu sekolah dengan beliau.
Nah, hasil
liputanmu yang salah itu bila ditulis tentu akan menghasilkan laporan yang
tidak tepat. Faktanya ada, yakni kedatangan tokoh, tetapi yang salah adalah
memakai tujuan kehadiran tokoh tersebut. Dalam ilmu jurnalistik liputan semacam
ini disebut “tidak akurat”.
Bagaimana supaya
menghasilkan liputan yang tepat? Caranya kamu harus menentukan calon “nara
sumber” yang dianggap paling tahu atau yang paling bertanggung jawab atas
kehadiran tokoh. Nara sumber inilah yang menjadi target utama untuk
diwawancarai atau dimintai keterangannya. Calon naras umber hendaknya jangan
hanya satu orang, sebab tidak menutup kemungkinan naras umber pertama tidak ada
di tempat.
Karena itu
harus ditentukan tiga atau empat naras umber. Bila kepala sekolah kebetulan
sedang bertugas ke luar kota, padahal buletinmu sudah harus terbit dua hari
lagi, apakah rencana liputan tersebut harus diurungkan. Tidak! Kamu mestinya
bisa mewancarai naras umber kedua yakni, Wakil kepala sekolah. Bila pun beliau
juga tidak ada bisa cari para guru yang mengerti rencana kedatangan Tokoh. Begitu
seharusnya, Cuma perlu dicatat tidak semua orang disekolahmu itu layak menjadi naras
umber. Akan sangat fatal bila yang kamu wawancarai adalah petugas kebersihan di
sekolahmu yang tidak tahu menahu rencana tersebut.
Di ambil dari buku :
Panduan Menulis Untuk Pemula Drs. Redi Panuju,
MSi PUSTAKA PELAJAR.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar