Jumat, 30 September 2016

Ketepatan Memaknai dan Ketepatan Tulisan (Drs. Redi Panuju, MSi)


CaraJurnalistik-Sebuah karya jurnalistik dikemas baik atau buruk ditentukan oleh kegiatan awal pencarian fakta dilingkungan. Dalam ilmu jurnalistik kegiatan ini disebut “news gatherin”. Seorang jurnalis harus mampu menangkap peristiwa-peristiwa yang ada di skitarnya, sebab kesempatan waktu yang diberikan oleh media tempat ia bekerja untuk menulis peristiwa ini seringkali sangat terbatas. Jika media tempat ia bekerja tersebut surat kabar harian, misalnya, ia hanya diberikan kesempatan waktu (dead line) paling banyak lima jam saja. Misalnya peristiwa tersebut terjadi pukul 09:00 WIB sampai pukul 12:00 WIB, maka ia harus memiliki draf (out line) yang lengkap sebelum pukul 17:00 WIB. Dan naskah jadinya semestinya harus jadi satu jam kemudian. Naskah ini harus diperiksa editor, disetting, dilayout, sebelum kemudia dicetak. Tegasnya cara kerja jurnalis harus cepat.

Karena itu orang yang ingin bekerja dibidang jurnalistik harus memiliki apa yang disebu “kemampuan responsif”, yakni kemampuan dalam memaknai peristiwa yang hendak diliput dengan cepat dan tepat. Tentang bagaimana metode latihan untuk membentuk kecepatan dalam merespon gejala akan kita bahas nanti. Bagian ini kita fokuskan dulu pada masalah ketepatan dalam memaknai gejala yang menentukan ketepatan dalam penulisannya.

Misalnya kamu seorang wartawan bulletin sekolah disuruh meliput peristiwa kedatangan tokoh di sekolahmu. Tentunya, kamu tidak boleh menghipun informasi hanya berdasarkan terkaan atau dugaan saja. Dengan penuh keyakinan langsung ditulis “Kehadiran seorang tokoh dalam rangka memberikan bantuan buku-buku tentang pembangunan indonesia” atau ditambah “seorang tokoh memberikan ceramah tentang pengalamannya ketika menjadi anggota ABRI”. Apa yang kamu tulis dengan penuh PD (percaya diri) itu bisa keliru atau salah besar. Padahal kenyataanya tokoh tersebut datang kesekolahmu hanya dalam rangka reuni dengan Kepala Sekolah dan beberapa guru yang kebetulan dulu satu sekolah dengan beliau.

Nah, hasil liputanmu yang salah itu bila ditulis tentu akan menghasilkan laporan yang tidak tepat. Faktanya ada, yakni kedatangan tokoh, tetapi yang salah adalah memakai tujuan kehadiran tokoh tersebut. Dalam ilmu jurnalistik liputan semacam ini disebut “tidak akurat”.

Bagaimana supaya menghasilkan liputan yang tepat? Caranya kamu harus menentukan calon “nara sumber” yang dianggap paling tahu atau yang paling bertanggung jawab atas kehadiran tokoh. Nara sumber inilah yang menjadi target utama untuk diwawancarai atau dimintai keterangannya. Calon naras umber hendaknya jangan hanya satu orang, sebab tidak menutup kemungkinan naras umber pertama tidak ada di tempat.

Karena itu harus ditentukan tiga atau empat naras umber. Bila kepala sekolah kebetulan sedang bertugas ke luar kota, padahal buletinmu sudah harus terbit dua hari lagi, apakah rencana liputan tersebut harus diurungkan. Tidak! Kamu mestinya bisa mewancarai naras umber kedua yakni, Wakil kepala sekolah. Bila pun beliau juga tidak ada bisa cari para guru yang mengerti rencana kedatangan Tokoh. Begitu seharusnya, Cuma perlu dicatat tidak semua orang disekolahmu itu layak menjadi naras umber. Akan sangat fatal bila yang kamu wawancarai adalah petugas kebersihan di sekolahmu yang tidak tahu menahu rencana tersebut.

Di ambil dari buku :
Panduan Menulis Untuk Pemula Drs. Redi Panuju, MSi PUSTAKA PELAJAR.